Jumat, 10 Maret 2017

MAKALAH PRINSIP-PRINSIP DASAR PENELITIAN SEJARAH



PRINSIP-PRINSIP DASAR PENELITIAN SEJARAH

Untuk mengetahui dan mengungkapkan peristiwa sejarah yang telah terjadi di masa lampau, bukan hal yang mudah untuk dilakukan. Bahkan pengungkapan berbagai  peristiwa yang terjadi dalam kehidupan manusia di masa lampau mengalami kesulitan, yang disebabkan kurangnya bukti-bukti yang dapat dijadikan sumber untuk mengungkapkannya.

1.      Tahap Penelitian Sejarah
Peristiwa-peristiwa atau kejadian-kejadian yang terjadi pada masa lampau menjadi unsur yang sangat penting dalam penelitian yang dilakukan oleh para ahli sejarah untuk mengungkap tabir sejarah di masa lampau itu.

Pencarian Informasi Sejarah
            Sejarah sebagai suatu peristiwa yang telah terjadi dalam lingkup kehidupan manusia pada masa lampau akan meninggalkan goresan-goresan yang mewarnai kehidupan manusia. Goresan-goresan atau bekas-bekas yang ditinggalkan itu dapat bersifat positif maupun negatif. Goresan yang bersifat positif maupun negatif akan membekas dalam kehidupan masyarakat manusia.
            Dengan demikian, informasi sejarah sangat penting peranannya bagi para ahli untuk menelusuri peristiwa sejarah di masa lampau.

Pengumpulan Sumber-sumber Sejarah
            Walaupun terkadang sumber-sumber sejarah yangberhasil ditemukan tidak utuh atau tidak selengkap yang diharapkan, tetapi para ahli sejarah mencoba memberikan analisa agar mendekati keadaan seperti pada masa terjadinya suatu peristiwa tersebut.Pengumpulan sumber-sumber sejarah dapat dilakukan melalui sumber lisan, sumber tertulis, maupun sumber benda.

2.      Heuristik dalam Sejarah
Heuristik merupakan bagian dari penelitian sejarah. Heuristik adalah upaya upaya penelitian yang mendalam untuk menghimpun jejak-jejak sejarah atau mengumpulkan dokumen-dokumen agar dapat mengetahui segala bentuk peristiwa atau kejadian-kejadian bersejarah di masa lampau. Jejak atau dokumen-dokumen yang berhasil dihimpun itu merupakan data-data yang sangat berharga sehingga dapat dijadikan dasar untuk menelusuri peristiwa-peristiwa yang terjadi pada masa lampau. Namun, untuk menemukan jejak-jejak sejarah atau dokumen-dokumen bersejarah itu tidaklah mudah.
Jejak-jejak sejarah biasanya dapat ditemukan secara kebetulan oleh masyarakat. Banyak benda-benda budaya peninggalan masa lalu ditemukan secara tidak sengaja. Jejak-jejak sejarah masa lampau berupa berbagai bentuk perhiasan, peralatan rumah tangga, peralatan kerja bahkan puing-puing bangunan kuno seperti candi yang masih berserakan sering ditemukan secara kebetulan. Dari informasi penemuan itulah akhirnya para ahli atau sejarawan melakukan penelitian lebih lanjut. Bahkan tanpa informasi yang berhasil diterima dari masyarakat, para ahli atau sejarawan sangat sulit untuk menemukan jejak-jejak sejarah tentang masa lampau.

3.      Verifikasi dalam Sejarah
Verifikasi dalam sejarah memiliki arti pemeriksaan terhadap kebenaran laporan tentang suatu peristiwa sejarah.
Verifikasi diperlukan untuk meneliti kembali data-data atau laporan-laporan dari suatu peristiwa yang telah terjadi. Suatu peristiwa sejarah memiliki data-data atau laporan-laporan yang tidak sedikit jumlahnya sehingga para peneliti harus berhati-hati dalam mempelajari kembali data-data yang diperolehnya. Selanjutnya informasi tersebut dibahas untuk menentukan kebenaran data atau laporan dari suatu peristiwa sejarah.
Sebagai contoh, peristiwa Serangan Umum 1 Maret 1949 di Yogyakarta. Dalam perkembangannya terjadi perdebatan mengenai siapakah tokoh yang menggagas Serangan Umum itu?. Dari pertanyaan itu muncul penafsiran tentang tokoh-tokoh sebagai penggagas SeranganUmum. Pertama, Sri Sultan Hamengku Buwuno IX sebagai penguasa atas kerajaan Yogyakarta yang berwenang untuk memerintahkan pelaksanaan Serangan Umum. Kedua, Jenderal Sudirman yang berhasil menghimpun kembali kekuatan TNI juga berwenang untuk memerintahkan Serangan Umum. Ketiga, Letkol Soeharto yang pada saat itu sebagai Komandan Brigade X Kota Yogyakarta berinisiatif melancarkan Serangan Umum untuk membuktikan bahwa TNI masih kuat. Apalagi kedatangan pasukan Belanda di Yogyakarta mengikutsertakan wartawan dari berbagai media massa di dunia. Alasan Belanda menyerang Yogyakarta adalah untuk menumpas kaum pemberontakk yang dilakukan bangsa Indonesia. Tetapi para wartawan yang dibawa oleh pasukan Belanda melihat tidak ada pemberontakan yang dilakukan oleh bangsa Indonesia. Yang ada hanyalah bangsa Indonesia yang mempertahankan diri dari serangan pasukan Belanda.

4.      Interpretasi dalam Sejarah
Interpretasi dalam sejarah memiliki arti penafsiran terhadap suatu peristiwa atau memberikan pandangan teoritis terhadap suatu peristiwa sejarah.
Sumber-sumber sejarah itu berbentuk data-data. Namun, tidak semua data-data yang terkumpul dapat dijadikan sarana pendukung untuk mengungkapkan suatu peristiwa sejarah. Dari data-data tersebut diinterpretasikan atau ditafsirkan sehingga data-data yang terkumpul dapat mengungkap kebenaran suatu peristiwa yang telah terjadi di masa lampau.

5.      Sumber-sumber Sejarah
Peristiwa yang terjadi di masa lampau dapat terungkap jika ada sumber-sumber sejarah yang mendukungnya. Sumber sejarah terdiri atas:

*      Sumber lisan, yaitu keterangan langsung dari para pelaku atau saksi dari peristiwa yang terjadi di masa lampu, atau dari orang-orang yang menerima keterangan  itu secara lisan dari orang lain.
*      Sumber tertulis, yaitu sumber sejarah yang diperoleh melalui peninggalan-peninggalan tertulis yang mencatat peristiwa yang terjadi di masa lampau. Misalnya prasasti, dokumen, naskah, dan rekaman.
*      Sumber Benda, yaitu sumber sejarah yang diperoleh dari peninggalan benda-benda kebudayaan. Misalnya alat-alat atau benda-benda budaya (kapak, gerabah, perhiasan, dan manik-manik)

6.      Bukti dan Fakta Sejarah
Bukti dan fakta sejarah dapat diketahui melalui dua sumber asalnya, yaitu bukti dan fakta yang berasal dari sumber primer maupun sumber sekunder.



Bukti dan Fakta dari Sumber Primer
            Bukti dan fakta tentang peristiwa sejarah diuraikan oleh para pelaku atau saksi yang mengalami suatu peristiwa sejarah. Namun, terkadang uraian para pelaku atau saksi yang mengalami tentang peristiwa sejarah yang telah terjadi dipandang lemah, karena meninggalkan unsur obyektivitas. Misalnya, ketika para pelaku membahas peristiwa sejarah yang dialaminya lebih banyak menekankan pada unsur-unsur subyektivitas.

Bukti dan Fakta dari Sumber Sekunder
            Bukti dan fakta tentang peristiwa sejarah yang diuraikan oleh seseorang yang bukan pelaku atau saksi dari peristiwa tersebut. Akibatnya, kebenaran dari peristiwa tersebut semakin berkurang. Misalnya, Kerajaan Kutai atau Kerajaan Tarumanegara. Prasasti tersebut tidakmengungkap secara keseluruhan dari keadaan kerajaan-kerajaan pada masa itu.
           
7.      Artefak dalam Sejarah
Artefak merupakan peralatan atau alat-alat yang dibuat oleh manusia untuk membantu kehidupannya. Peralatan atau alat-alat itu merupakan hasil kebudayaan manusia yang dapat menunjukkan bahwa manusia memiliki kelebihan dari makhluk-makhluk lainnya. Kelebihan yang dimiliki oleh manusia itu adalah berupa akal dan pikiran untuk berkembang melebihi generasi terdahulunya.
Berikut diuraikan mengenai peninggalan budaya yang ditemukan di Indonesia.
a.      Zaman batu
Disebut zaman batu karena sebagian besar alat-alat penunjang kehidupan manusia, misalnya untuk mencari dan mengolah makanan masih terbuat dari batu.
Zaman batu ini bagi menjadi beberapa zaman, yakni Paleolitikum, Mesolitikum, dan Neolitikum.

1). Zaman Paleolitikum
            Zaman Paleolitikum ditandai dengan kebudayaan manusia yang masih sederhana.


Ciri-ciri Zaman paleolitikum:
*      Jenis manusia
Jenis manusia purba yang hidup pada zaman Paleolitikum adalah Phitecanthropuserectus, Homo wajakensis, meganthropus paleojavanicus, dan Homo Solensis. Fosil-fosil ini ditemukan di sepanjang sungai Bengawan Solo.

*      Kebudayaan
Kebudayaan zaman Paleolitikum yang ditemukan di wilayah Indonesia dianggap sebagai kebudayaan tertua di Indonesia. Nama kebudayaan ini disesuaikan dengan nama daerah tempat penemuan kebudayaan tersebut, yaitu daerah Pacitan dan Ngandong.

Kebudayaan Pacitan.
Pada tahun 1935, Von Koenigswald menemukan alat-alat batu dan kapak genggam di daerah Pacitan. Kapak genggam yang ditemukan itu berbentuk kapak, tetapi tidak bertangkai.
Para ahli menyebut alat-alat dari Pacitan ini dengan nama Chopper (artinya alat penetak). Alat ini berasal dari lapisan Trinil (Pleistosin tengah).

Kebudayaan Ngandong
Para ahli berhasil menemukan alat-alat dari tulang, kapak genggam, alat penusuk dari tanduk rusa, dan ujung tombak yang bergigi di daerah Ngandong dan Sidoarjo. 

2). Zaman Mesolitikum
Pada zaman Mesolitikum kehidupan manusia tidak jauh berbeda dengan zaman pelolitikum, yaitu berburu dan menangkap ikan. Namun, pada zaman ini manusia sudah mempunyai tempat tinggal agak tetap dan bercocok tanam secara sederhana. Mereka memilih tempat tinggalnya di tepi pantai (kjokkenmoddinger) dan di goa-goa (abris sous roche).

Kjokkenmoddinger
            Kjokkenmoddinger merupakan corak istimewa dari zaman Mesolitikum. Kjokkenmoddinger adalah sampah dapur  yang ditemukan di sepanjang pantai timur Pulau Sumatera.

Abris sous roche
            Hasil penemuan lain pada zaman Mesolitikum adalah abris sous roche. Abris sous roche adalah goa yang dipakai sebagai tempat tinggal.

Kebudayaan Bacson-Hoabinh
            Di Indonesia terdapat dua macam kebudayaan Bacson-Hoanbinh, yaitu:
*      Kebudayaab pebble dan alat-alat dari tulang yang datang ke Indonesia melalui jalan barat.
*      Kebudayaan flakes yang dating ke Indonesia melalui jalan timur.

Kebudayaan Bandung
            Pada daerah ini ditemukan kebudayaan berupa flakes. Flakes ditemukan di tepi danau Bandung dinamakan microlith (batu-batu kecil).

Kebudayaan Toala
            Toala adalah nama salah satu daerah di Sulawesi Selatan.

            Berdasarkan keterangan-keterangan di atas, maka Van Stein Callenfels membedakan kebudayaan Indonesia pada zaman Mesolitikum menjadi tiga corak yaitu:
*      Pebble Culture, di Sumatera Timur
*      Bone Culture, di Sampung, Ponorogo, dan Madiun
*      Flakes Culture, di Timor, Toala dan Rote.

3). Zaman Neolitikum
            Kebudayaan-kebudayaan yang berasal dari zaman Neolitikum berhasil  ditemukan di Sumatera Selatan, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan di sepanjang Sungai Bengawan Solo. Kebudayaan Neolitikum merupakan revolusi dari kebudayaan food gathering menjadi food producing.
            Peralatan pada zaman Neolitikum dibagi menjadi dua golongan besar, yaitu kapak persegi dan kapak lonjong.



4). Zaman Megalitikum
            Zaman Megalitikum biasa disebut dengan zaman batu besar, karena pada zaman ini manusia sudah dapat membuat dan meninggalkan kebudayaan yang terbuat dari batu-batu besar. Kebudayaan ini berkembang dari zaman neolitikum sampai zaman perunggu.
            Pada zaman ini manusia sudah mengenal kepercayaan.Walaupun kepercayaan mereka masih dalam tingkat awal, yaitu kepercayaan terhadap roh nenek moyang. Kepercayaan ini muncul karena pengetahuan manusia sudah mulai meningkat.

b.      Zaman Logam
Disebut zaman logam karena alat-alat penunjang kehidupan manusia sebagian besar terbuat dari logam. Zaman logam terbagi menjadi zaman tembaga, zaman perunggu, dan zaman besi.

1)      Zaman Tembaga
Zaman tembaga merupakan zaman awal manusia mengenal peralatan dari logam. Namun, zaman tembaga ini tidak pernah berpengaruh terhadap kehidupan masyarakat Indonesia.

2)      Zaman Perunggu
Pada zaman ini manusia sudah mampu membuat alat-alat dari perunggu, yaitu logam campuran anatara timah dan tembaga. Pada zaman ini peralatan yang dikenal luas adalah kapak perunggu.
Hasil-hasil yang terpenting dari kebudayaan perunggu yang  ditemukan di Indonesia adalah kapak corong, nekara, dan perhiasan perunggu.

3)      Zaman Besi
Pada zaman ini manusia telah dapat mengolah bijih-bijih besi untuk membuat peralatan-peralatan yang dibutuhkan oleh manusia itu sendiri. Tingkat kehidupan manusia pada zaman besi ini sudah jauh lebih baik dari tingkat kehidupan manusia dari zaman sebelumnya.

8.      Fakta dan Mental Sejarah
Berbicara tentang fakta dan mental dalam ilmu sejarah, maka tidak dapat lepas dari pengertian “Apakah mental itu?”. Mental memeliki pengertian sangat luas, bahkan dalam kehidupan sehari-sehari selalu terdengar kata-kata mental yang dikaitkan dengan prilaku atau tindakan maupun moral manusia. Namun apakah sebenarnya mental itu? Dan apakah fakta mental dalam ilmu sejarah itu?
Mental terkait dengan masalah batin, rohani, dan watak manusia. Oleh karena itu, mental akan dapat menentukan baik buruknya perjalanan kehidupan manusia, masyarakat atau bangsa.
Peristiwa-peristiwa yang telah terjadi pada masa lampau dapat mempengaruhi mental kehidupan masyarakat di masa kini maupun di masa depan. Hal ini menjadi salah satu fakta dalam perjalan sejarah kehidupan suatu bangsa. Bahkan dalam fakta mental tercatat hubungan yang sangat erat antara suatu peristiwa yang telah terjadi dengan batin atau mental masyarakat.  Karena perkembangan atau akumulasi batin atau mental pada suatu masyarakat dapat mencetuskan munculnya suatu peristiwa, baik peristiwa besar atau kecil.
Contohnya, peristiwa peperangan yang selalu menyisakan tragedy dan derita akan mempengaruhi mental masyarakat yang mengalaminya.

9.      Fakta Sosial dalam Sejarah
Sejarah tidak dapat dipisahkan dari fakta-fakta social yang muncul dalam kehidupan masyarakat. Karena munculnya suatu peristiwa bersejarah dapat dipengaruhi oleh masalah-masalah social yang terjadi dalam lingkungan kehidupan masyarakat. Bahkan, masalah social yang muncul dan berkembang di masyarakat kerap kali menimbulkan suatu peristiwa, baik peristiwa itu merupakan peristiwa kecil maupun peristiwa besar.
Contohnya, masalah-masalah social yang dibatasi pada masa Orde Baru (di bawah kepemimpinan Presiden Soeharto) tertanama kuat dalam kehidupan masyarakat Indonesia.
Masalah-masalah social yang sering muncul setelah terjadi suatu peristiwa bersejarah, seperti pada Perang Dunia I dan II, Perang Asia Timur Raya atau Perang Pasifik. Hubungan social yang pernah terputus akibat peperangan mulai dibenahi kembali, sehingga dapat memunculkan jalinan hubungan social yang lebih erat dari masa sebelumnya.
Berdasarkan uraian dan contoh-contoh di atas, maka pengertian social berkenaan dengan kehidupan suatu kelompok masyarakat maupun bangsa sehingga untuk menjaga agar hubungan social tetap terjaga dengan baik perlu adanya komunikasi social antara masyarakat dalam mencapai tujuan dari masyarakat yang bersangkutan atau menunjang pembangunan di segala sector kehidupan masyarakat tersebut.
Dengan demikian, fakta social meruapak suatu bukti yang muncul dari lingkungan social masyarakat untuk mencapai tujuan dari masyarakat bersangkutan. Sehingga di dalam upaya mencapai tujuan itu sering muncul peristiwa-peristiwa atau kejadian-kejadian. Bukti-bukti yang muncul dari peristiwa-peristiwa itulah yang dapat dikenal dengan fakta social dalam ilmu sejarah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar