Selasa, 21 Februari 2017

makalah asbabun nuzul



BAB I
ILMU ASBABUN NUZUL



Salah satu permasalahan ulum Al-Qur’an yang sangat dibutuhkan didalamnya adalah :
Kategorisasi Asbabun Nuzul itu  bersifat situasional yang harus diteliti atau bisa memberikan suatu kesimpulan tentang suatu riwayat sebagai asbabun nuzul, sebab walaupun riwayat itu datang dari sahabat bakan berarti riwayat tersebut sudah pasti benar dan tidak perlu ditelitoi lagi.

1.1  Pengertian sebab Asbabun Nuzul dan fungsinya dalam memahami Al-Qur’an
  1. Sebab Asbabun Nuzul
Menurut Etimologi (bahasa) Asbabun Nuzul artinya suatu ungkapan yang maksud makna lainnya bentuk atau sebab-sebab adapun Nuzul adalah maksud ungkapan makna lainnya ialah turun.
Sedangkan menurut pengertian termminologi (Istilah)  Asbabun Nuzul adalah sebagai berikut:
  1. ayat-ayat Asbabun Nuzul adalah turunnya suatu ayat yang mengungkapkan suatu permasalahan dan menerangkan hukum suatu pada saat terjadinya suatu peristiwa. Definisi ini  dikemukakan oleh Shubhi Shalih.
  2. Ayat-ayat Asbabun Nuzul adalah ayat yang maksudnya adakala berbentuk peristiwa atau adakala berbentuk pertanyaan.
  3. ayat-ayat Asbabun Nuzul adalah ayat yang maksudnya mempunyai peran yang sangat penting karena kekuatan (Kebasahan) suatu riwayat Asbabun Nuzul tergantung persoalan kuat (shahih) atau lemah (ahaif) serta otentik atau palsunya hadis yang diriwayatkan.


  1. Fungsi dalam memahami Al-Qur’an
Secara rinci Al-Zarwani menyebutkan beberapa fungsi dalam memahami Al-Qur’an adalah sebagai berikut :
  1. Permasalahan tentang Asbabun Nuzul adapat memberikan pengetahuan tentang rahasia Allah SWT secara khusus dalam mensyari’atkan hukum-hukum didalam Al-Qur’an.
  2. Pamahaman tentang Asbabun Nuzul dapat membantu dalam memahami ayat-ayat Al-Qur’an dan menghindarkan kesulitan
  3. Pemahaman tentang Asbabun Nuzul dapat membantu dugaan adanya Hars (pembatasan) dalam ayat yang secara Zahirnya terlihat adanya Hars (pembatasan)
  4. Pemahaman tentang Asbabun Nuzul dapat mengkhususkan hukum pada sebab menurut ulama yang memandang bahwa yang mesti diperhatikan adalah kekhususan sebab bukan keumuman lafalz
  5. Pemahaman tentang Asbabun Nuzul dapat memberikan pengetahuan pula bahwa sebab turunnya suatu ayat sekalipun ada yang mentaksirkan.
  6. Pemahaman tentang Asbabun Nuzul dapat mempermudah orang menghafal ayat-ayat Al-Qur’an dan memperkuat keberadaan wahyu dalam ingatan orang yang mendengarnya.
Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa ini Asbabun Nuzul adalah ayat-ayat yang menunjukan ketegasan mengenai sebab turunnya ayat, dan pengetahuan terhadap Asbabun Nuzul ini banyak kontibusi dalam memahami ayat-ayat Al-Qur’an
Difinisi  ditemukan oleh Ibnu Talmiyah

1.2  Macam-macam seba Asbabun Nuzul dan contohnya
Diantara macam-macam sebab Asbabun Nuzul adalah sebagai berikut:
Aspek yang membentuk Asbabun Nuzul itu dapat diklasifikasikan menjadi dua bentuk :
  1. Asbabun Nuzul ada yang berbentuk pertanyaan
  2. Asbabun Nuzul ada yang berbentuk pertanyaan
Bentuk yang pertama meliputi tiga jenis peristiwa, yaitu : berupa pertengkaran, berupa kesalahan serius dan juga berupa cita-cita atau keinginan. Bentuk yang kedua berupa pertanyaan, seperti  suatu yang terjadi dimasa lalu, masa yang sedang berlangsung dan masa yang akan datang.

- Contoh Asbabun Nuzul yang berupa peristiwa diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Hubbab Ibn Al-Qur’an-arat.
Berkata” Aku berprofesi sebagai tukang besi, dan Ash Ibn Wail mempunyai utang kepadaku. Aku datang kepadanya untuk menagihnya tetapi ia katakan : aku tidak akan membayar utangku kepadamu sebelum kamu mau kufur kepada Muhammad SAW serta kami mau menyembah kepada berhala atau Uzza, maka aku menjawab : aku tidak mau sampai aku kufur dimatikan kelak oleh Allah jawab Ash Ibn Wail: Baik, tunggulah, aku sampai hari itu, akan kubawakan harta dan anak, aku bayar utangku padamu.

-          Contoh Asbabun Nuzul yang berupa pertanyaan diriwayatkan dari Muaz Ibn Jabal  
-          Bahwa ia berkata  “ya Rasulullah, Orang-orang yahudi datang kepadaku dan mengemukakan beberapa pertanyaan tentang bulan, bukankah bulan itu selalu saja mulanya tampak kecil, kemudian bertambah besar dan  memudar, lalu kembali mengecik seperti semula. A

Allah SWT menurunkan ayat 189 Surat Al-Baqarah sebagai berikut :
Artinya : “Maka bertanya kepada engkau tantang keadaan bulan
Katakanlah, bulan itu menentukan waktu bagi manusia dan untuk (mengerjakan) Hajj”

1.3  berbilangnya riwayat sebab Asbabun Nuzul untuk satu ayat dan sebaliknya. Dianataranya salah satu persoalan berbilangnya riwayat sebab Asbabun Nuzul untuk salah satu ayat  dan sebaliknya maka muncul beberapa kemungkinan sebagai berikut :
  1. Kedua riwayat itu yang salah satu Shahih dan yang lain tidak Shahih
  2. Kedua riwayat itu sama-sama dan yang satu ada dalil yang memperkuat sedangkan lain tidak ada.
  3. Kedua riwayat ini sama-sama shahih dan tidak ditemukan dalil yang memperkuat salah satunya, tetapi sangat komrpomikan
  4. Kedua riwayat itu sama-sama shahih tidak terdapat dalil yang memperkuatkan salah satunya dan kedua-duanya tidak mungkin dipakai.

Jika mendapat kasus dalam menerangkan Asbabun Nuzul suatu ayat. Sebagaimana tersebut diatas maka melalui jalan alternatif pemecahannya adalah sebagai berikut :
  1. Apabila kedua riwayat itu shahih, yang pertama menyebutkan sebab turunnya ayat dengan tegas, sementara yang kedua tidak menyebutkan secara tegas, maka yang diambil adalahriwayat yang pertama.
  2. Apabila kedua riwayat tersebut shahih, mungkin salah satunya ditarjihkan atau karena salah satu lagi diriwayatkan oleh perawi yang menyaksikan sendiri, maka dipilih riwayat yang lebih rajin (kuat)
  3. Apabila kita mengambil dua riwayat yang menerangkan Sababiyah riwayat yang lebih rajin dan lebih sahih, sementara riwayat yang lain shahih tetapi marjuh (dipandang lebih lemah), maka yang diambil adalah riwayat yang sahih.

BAB II
KESIMPULAN


A.    Kesimpulan
Ayat-ayat Asbabun Nuzul  adalah turunnya suatu ayat yang mengungkapkan suatu permasalahan dan menerangkan hukum sesuatu pada saat terjadinya suatu peristiwa.
  1. Ayat-ayat Asbabun Nuzul adalah ayat yang maksudnya mempunyai peran yang sangat penting karena kekuatan (keabsahan) suatu riwayat Asbabun Nuzul tergantung persoalan kuat (shahih) atau leah (dhaif) serta autentik atau palsunya hadis yang diriwayatkan.
  2. Wawasan tentang Asbabun Nuzul dapat memberikan pengetahuan tenatng rahasia Allah secara khusus dalam mensyri’atkan hukum-hukum agama didalam Al-Qur’an.
  3. Wawasan tentang Asbabun Nuzul dapat membantu dalam memahami ayat-ayat Al-Qur’an dan menghindarkan kesulitan
  4. Asbabun Nuzul berbentuk pertanyaan
  5. Asbabun Nuzul berbentuk peristiwa
  6. kedua riwayat itu yang satu dan yang lain tidak sahih
  7. kedua riwayat itu sama-sama shahih, tetapi yang satu ada dalilnya yang memperkuat sedangan yang lain tidak ada.

B.     Saran
.


Jumat, 17 Februari 2017

makalah adab dan aurat wanita



BAB I
PENDAHULUAN

Sebagian muslimah multazimah (yang komitmen dengan berbagai aturan syariat) beranggapan bahwa pakaian muslimah yang syar’i harus berupa memakai jubah, gamis panjang atau terusan. Akhirnya mereka beranggapan bahwa muslimah yang memakai pakaian potongan (ada atasan dan ada bawahan) bukanlah muslimah yang mengenakan pakaian yang syar’i. Di samping itu muncul anggapan bahwa itu adalah gaya berpakaian ala haroki (jubah hitam). Padahal jika kita tahu bahwa model pakaian muslimah semacam itu adalah model pakaian yang masih diperkenankan oleh syari`at tentu tidak sepantasnya kita memiliki anggapan-anggapan semisal di atas. Kita semua memiliki kewajiban untuk berilmu sebelum beramal dan berucap.

BAB II
PEMBAHASAN



1.      Pengertian Aurat dan Pakaian Muslimah
Aurat adalah bagian tubuh manusia yang tidak boleh dibuka dan dilihat oleh orang lain. Kalau aurat laki-laki ialah antara pusat dan lutut, sedangkan aurat perempuan ialah seluruh tubuhnya, kecuali muka dan telapak tangan.
Sedangkan pakaian muslimah itu terdiri dari satu potong kain ataukah dua potong asal pakaian tersebut menutupi aurat dengan baik sebagaimana yang dikehendaki oleh syariat”

2.      Pakaian yang baik Menurut Islam
Syuhroh adalah sesuatu yang menonjol. Yang dimaksud dengan pakaian syuhroh adalah pakaian yang menyebabkan pemakai menjadi kondang di tengah-tengah masyarakat disebabkan warna pakaiannya menyelisihi warna pakaian yang umum dipakai masyarakat. Akhirnya banyak orang menatap tajam orang yang memakai pakaian tersebut dan pemakainya sendiri lalu merasa dan bersikap sombong terhadap orang lain”.
Dalam kutipan di atas terdapat indikator pakaian syuhroh yaitu banyak orang menatap tajam orang yang memakainya. Hal ini menunjukkan bahwa jika suatu jenis pakaian itu kurang umum atau kurang familiar, alias kurang memasyarakat di suatu daerah namun orang-orang di daerah tersebut menganggapnya wajar sehingga tidak ada sorotan mata yang tajam ditujukan kepada orang tersebut maka pakaian itu bukanlah pakaian syuhroh yang tercela.
Memakai model pakaian yang menyelisihi kebiasaan masyarakat (yang tidak bertabrakan dengan syariat, pent) hukumnya makruh karena menyebabkan syuhroh alias ketenaran. Yang dimaksud dengan pakaian syuhroh adalah pakaian yang pemakainya menjadi tenar dan bahan pembicaraan di masyarakat. Pakaian semacam itu dilarang karena menyebabkan banyak orang menggunjingkan sehingga dia menjadi menyebabkan orang lain berbuat dosa.

3.      Yang Dilalaikan Oleh Perempuan
  1. Mewarnai kuku dengan pacar
Dari Aisyah, “Ada seorang perempuan menyodorkan sebuah surat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari balik tirai. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menarik tangan beliau sambil berkata, ‘Aku tidak tahu apakah ini tangan laki-laki ataukah tangan perempuan’. Perempuan tersebut menjawab, ‘Bahkan tangan perempuan’. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika engkau memang perempuan tentu engkau akan mewarnai kukumu” yaitu dengan pacar (HR Abu Daud no 4166, dinilai hasan oleh al Albani).
Sangat disayangkan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ini telah ditinggalkan berganti dengan mewarnai kuku yang panjang dengan kuteks, mirip sudah dengan perempuan-perempuan kafir.
  1. Memanjangkan Ujung Kain Bagi Perempuan
Dari Shafiyah binti Abu Ubaid, beliau bercerita bahwa Ummi Salamah, istri Nabi berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau membicarakan larangan isbal (celana di bawah mata kaki, ed) bagi laki-laki, “Bagaimana dengan perempuan, wahai Rasulullah?”. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hendaknya perempuan memanjangkan ujung kainnya sebanyak sejengkal (dari mata kaki)”. Ummu Salamah berkata, “Jika demikian, ada bagian tubuh perempuan yang masih mungkin untuk tersingkap”. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika demikian, ditambahkan satu hasta (dua jengkal)-dari mata kaki-tapi tidak boleh lebih dari itu” (HR Abu Daud no 4117, dinilai shahih oleh al Albani).
Ini adalah suatu sunnah Nabi yang telah ditinggalkan oleh banyak muslimah bahkan meski sudah bertahun-tahun komitmen dengan jilbab.
  1. Betah dirumah
        Di antara yang diteladankan oleh para wanita salaf yang shalihah adalah betah berada di rumah dan bersungguh-sungguh menghindari laki-laki serta tidak keluar rumah kecuali ada kebutuhan yang mendesak. Hal ini dengan tujuan untuk menyelamatkan masyarakat dari godaan wanita yang merupakan godaan terbesar bagi laki-laki.
BAB III
PENUTUP



A. Kesimpulan

Dari uraian-uraian terdahulu dapat disimpulkan bahwa aurat pria dan wanita mesti dijaga jangan sampai orang yang bukan muhrim melihatnya. Mengapa orang-orang beriman di suruh berpakaian yang menutupi aurat?
Hal itu karena manusia lebih senang dan lebih cenderung memperturutkan perintah hawa nafsunya dari pada mematuhi perintah Allah SWT.
Wanita yang tidak akan masuk surga antara lain yang berpakaian tetapi telanjang (karena pakaiannya terlalu minim, terlalu tipis atau tembus pandang, Terlalu ketat atau pakaian yang merangsang pria karena sebagian auratnya terbuka). Orang-orang beriman selain di tuntut untuk berpakaian yang menutupi aurat juga di anjurkan untuk berhias diri agar berpenampilan indah.






DAFTAR PUSTAKA



  • Izzat, Hibbah Rauf, Aurat Sesungguhnya, Remaja Rosdakarya, Bandung, 1995.

  • Rida, Rasyid, Keimanan Yang Hakiki, Matba' ah alManar, Mesir tanpa tahun.

  • Ibnu Jarullah, Abdullah, Jika Aurat Terjaga, Rica Grafika, Jakarta, 1995.

MAKALAH ANTROPOLOGI



BAB I
PENDAHULUAN

A.  Latar belakang
             
Manusia adalah makhluk sosial, artinya dalam hidupnya, manusia memerlukan kerjasama dengan orang lain. Sejak manusia lahir ke dunia mereka membutuhkan bantuan dan hubungan orang lain agar mereka dapat tetap hidup (survival). Hal ini berbeda dengan beberapa makhluk lain yang dikaruniai kemampuan untuk terus hidup walaupun tanpa bantuan induknya. Manusia dalam hidup di masyarakat diharapkan memiliki keterampilan dan pengetahuan yang dapat dimanfaatkan dalam hidupnya, seperti: memudahkan dalam mencari pekerjaan, berinteraksi dengan manusia lain, dan memiliki wawasan budaya lokal daerah setempat agar tidak punah. Dalam berinteraksi di masyarakat, manusia dipengaruhi oleh nilai, aturan (norma), budaya, serta kondisi geografisnya terhadap perubahan perilakunya.
            Pada hakekatnya pendidikan merupakan proses transformasi nilai dan kebudayaan dari generasi satu kepada generasi berikutnya, karena itu proses pendidikan akan terkait erat dengan latar belakang budaya tempat proses pendidikan berlangsung. (D. M. Brooks: 1988). Dengan demikian fungsi pendidikan sangat penting dalam melestarikan budaya dan menjadikan manusia berperilaku sesuai dengan nilai, norma, dan budaya lokal, sehingga manusia masih memiliki wawasan budaya setempat tanpa harus melupakan budaya aslinya. Secara tidak langsung pendidikan berbasis budaya lokal akan mempengaruhi pola pikir dan membentuk manusia seutuhnya.
            Praktik di lapangan, bahwa kurikulum pendidikan mencerminkan sentralisasi. Sentralisasi kurikulum pendidikan merupakan cerminan akan kurangnya penghayatan pentingnya landasan antropologi dalam pendidikan secara mendalam, khususnya kurikulum ilmu-ilmu sosial dan humaniora. Disatu pihak, setralisasi kurikulum akan memudahkan pembakuan proses belajar, namun tanpa memperhatikan latar belakang budaya daerah, keluaran pendidikan tersebut tidak akan terserap kembali ke dalam masyarakat. Adanya kebijakan dan upaya pengembangan kurikulum sekolah merupakan salah satu perwujudan akan pentingnya tinjauan latar sosial antropologi dalam pendidikan.
Berdasarkan uraian di atas, maka penyusun akan membahas secara lengkap tentang landasan antropologi dalam pendidikan di masa yang terdahulu sampai saat ini. Tujuannya agar pendidikan di Indonesia tetap memahami keanekaragaman budaya setempat dan tidak menghilangkan nilai luhur, norma, serta etika dalam mencapai tujuan pendidikan nasional.

B.  Rumusan Masalah
Dari latar belakang yang dipaparkan di atas, maka dapat di jabarkan rumusan masalahnya sebagai berikut:
1.    Bagaimana landasan antropologi di Indonesia?
2.    Apa pengaruh antropologi terhadap lingkungan dan masyarakat?
3.    Apa manfaat landasan antropologi dalam pendidikan?
4.    Bagaimana implikasi landasan antropologi dalam pendidikan?
5.    Bagaimana aplikasi landasan antropologi dalam pendidikan saat ini?
6.    Apa pengaruh landasan antropologi terhadap perubahan kebijaksanaan pendidikan di Indonesia?

C.  Tujuan
Dari rumusan masalah yang dipaparkan di atas, maka rumusan tujuannya yaitu :
1.     Untuk mengetahui landasan antropologi di Indonesia.
2.    Untuk mengetahui pengaruh antropologi terhadap lingkungan dan masyarakat.
3.    Untuk mengetahui manfaat landasan antropologi dalam pendidikan.
4.    Untuk mengetahui implikasi landasan antropologi dalam pendidikan.
5.    Untuk mengetahui aplikasi landasan antropologi dalam pendidikan saat ini.


BAB II
PEMBAHASAN

A.  Pengertian Antropologi
Antropologi berasal dari kata Yunani άνθρωπος (baca: anthropos) yang berarti "manusia" atau "orang", dan logos yang berarti "wacana" (dalam pengertian "bernalar", "berakal"). Antropologi mempelajari manusia sebagai makhluk biologis sekaligus makhluk sosial (wikipedia). Antropologi adalah suatu ilmu yang memahami sifat-sifat semua jenis manusia secara lebih banyak. Antropologi yang dahulu dibutuhkan oleh kaum misionaris untuk penyebaran agama Nasrani dan bersamaan dengan itu berlangsung sistem penjajahan atas negara-negara diluar Eropa, dewasa ini dibutuhkan bagi kepentingan kemanusiaan yang lebih luas. Studi antropologi selain untuk kepentingan pengembangan ilmu itu sendiri, di negara-negara yang telah membangun sangat diperlukan bagi pembuatan-pembuatan kebijakan dalam rangka pembangunan dan pengembangan masyarakat. Landasan antropologis pendidikan adalah asumsi-asumsi yang bersumber dari kaidah-kaidah antropologi yang dijadikan titik tolak dalam pendidikan. Contoh : perbedaan kebudayaan masyarakat di berbagai daerah (misalnya: sistem mata pencaharian, bahasa, kesenian, dsb).
Sebagai suatu disiplin ilmu yang sangat luas cakupannya, maka tidak ada seorang ahli antropologi yang mampu menelaah dan menguasai antropologi secara sempurna. Demikianlah maka antropologi dipecah-pecah menjadi beberapa bagian dan para ahli Antropologi masing-masing mengkhususkan diri pada spesialisasi sesuai dengan minat dan kemampuannya untuk mendalami studi secara mendalam pada bagian-bagian tertentu dalam antropologi. Dengan demikian, spesialisasi studi antropologi menjadi banyak, sesuai dengan perkembangan ahli-ahli antropologi dalam mengarahkan studinya untuk lebih mamahami sifat-sifat dan hajat hidup manusia secara lebih banyak.
Antropologi secara garis besar dipecah menjadi 2 bagian yaitu antropologi fisik/biologi dan antropologi budaya. Tetapi dalam pecahan antropologi budaya, terpecah – pecah lagi menjadi banyak sehingga menjadi spesialisasi – spesialisasi, termasuk antropologi. Seperti halnya kajian antropologi pada umumnya antropologi berusaha menyusun generalisasi yang bermanfaat tentang manusia dan perilakunya dalam rangka memperoleh pengertian yang lengkap tentang keanekaragaman manusia khususnya dalam dunia pendidikan.

Dari pengertian sosiologi yang dipaparkan di atas pendidikan yang berlandaskan antropologi khususnya di Indonesia sangat dibutuhkan karena keadaan masyarakat Indonesia yang terdiri dari beribu-ribu suku bangsa dengan adat-istiadat, kebudayaan dan bahasa yang beragam tentu pendidikan tidak dapat dipisahkan dari latar antropologi. Namun, pada kenyataanya kurikulum yang digunakan di Indonesia saat ini masih terkesan bersifat sentral. Sentralisasi kurikulum pendidikan merupakan cerminan akan kurangnya penghayatan pentingnya landasan antropologik dalam pendidikan secara mendalam, khususnya kurikulum ilmu-ilmu sosial dan humaniora. Di satu pihak, sentralisasi kurikulum akan memudahkan pembakuan prosesi belajar, namun tanpa memperhatikan latar belakang budaya daerah keluaran pendidikan tersebut tidak akan terserap kembali ke dalam masyarakat. Adanya kebijakan dan upaya pengembangan kurikulum muatan lokal pada kurikulum sekolah merupakan salah satu perwujudan akan pentingnya tinjauan latar sosial antropologik dalam pendidikan (Soedomo, 1990).

B.  Pengaruh Antropologi Terhadap Lingkungan dan Masyarakat
Perbedaan geografis mencakup perbedaan-perbedaan yang disebabkan oleh faktor geografis seperti letak daerah, misalnya: pantai, daerah pegunungan, daerah tropis, daerah sub tropis, daerah subur, daerah tandus, dan sebagainya.
Sebagai contoh, pengaruh daerah sub tropis terhadap pola kerja manusia akan berbeda dengan daerah tropis. Pada daerah sub tropis ada musim dimana manusia kurang/tidak dapat bekerja secara penuh, terutama pada musim dingin, sehingga keadaan ini memaksa manusia daerah sub tropis untuk mempersiapkan cadangan makanan untuk musim dingin. Demikian pula masyarakat di daerah gersang akan terpaksa bekerja lebih keras untuk mempertahankan hidupnya dibandingkan dengan daerah subur.
Perbedaan-perbedaan tersebut melahirkan pula perbedaan kebudayaan, baik dalam wujud ide-ide, pola, tingkah laku maupun kebudayaan. Di daerah subur seperti di Indonesia, dimana manusia tidak perlu berjuang keras untuk mempertahankan hidupnya, dimana sumber-sumber alam relatif mudah diambil, membuat manusia juga bermurah hati terhadap sesamanya, sehingga bila ada seorang warga masyarakat yang mengalami kekurangan, orang launn dengan mudahnya membantu orang yang menderita tersebut. Karena itu terutama di pedesaan, dimana kebutuhan hidup dari alam sekitar relatif lebih mudah didapatkan, perasaan gotong-royong antar warga masyarakat sangat tinggi. Sebaliknya di daerah perkotaan dimana manusia harus berusaha lebih keras untuk mempertahankan hidupnya, maka perasaan gotong-royong itu makin menipis, dan perasaan individualitasnya lebih tinggi.
Hal-hal tersebut diatas juga mempengaruhi sistem nilai budaya yang dianut oleh warga masyarakat, yang dengan sendirinya akan berpengaruh terhadap proses pendidikan yang berlangsung di masyarakat yang bersangkutan, karena proses pendidikan tersebut tidak dapat dilepaskan dari lingkungan geografis dan sosiokultural masyarakat.
 Studi antropologi selain untuk kepentingan pengembangan ilmu itu sendiri, di negara-negara yang telah membangun sangat diperlukan bagi pembuatan-pembuatan kebijakan dalam rangka pembangunan dan pengembangan masyarakat. 
landasan antropologis pendidikan adalah asumsi-asumsi yang bersumber dari kaidah-kaidah antropologi yang dijadikan titik tolak dalam pendidikan. Contoh : perbedaan kebudayaan masyarakat di berbagai daerah (misalnya: system mata pencaharian, bahasa, kesenian, dsb). Mengimplikasikannya perlu diberlakukan kurikulum muatan lokal.


            Dari paparan diatas pendidikan perlu dilandasi antropologi karena melalui antropologi bisa membuka diri tentang keanekaragaman budaya yang dimiliki oleh Indonesia dan menghargai kebudayaan orang lain.

C.  Manfaat Landasan Antropologi dalam Pendidikan
Setiap manusia memiliki perbedaan, oleh karena itu seorang pendidik harus sedikit banyak memahami latar siswa yakni keluarga, budaya, lingkungan siswa. Oleh karena itu, antropologi dibutuhkan sebagai landasan dalam pendidikan. Antropologi dalam pendidikan memiliki beberapa manfaat diantaranya:
1. Dapat mengetahui pola perilaku manusia dalam kehidupan bermasyarakat secara Universal maupun pola perilaku manusia pada tiap-tiap masyarakat (suku bangsa)
2. Dapat mengetahui kedudukan serta peran yang harus kita lakukan sesuai dengan harapan warga masyarakat dari kedudukan yang kita sandang
3. Dengan mempelajari antropologi akan memperluas wawasan kita terhadap tata pergaulan umat manusia diseluruh dunia khususnya Indonesia yang mempunyai kekhususan-kekhususan yang sesuai dengan karakteristik daerahnya sehingga menimbulkan toleransi yang tinggi
4. Dapat mengetahui berbagai macam problema dalam masyarakat serta memiliki kepekaan terhadap kondisi-kondisi dalam masyarakat baik yang menyenangkan serta mampu mengambil inisiatif terhadap pemecahan permasalahan yang muncul dalam lingkungan masyarakatnya

Dari manfaat diatas dapat disimpulkan bahwa, antropologi dapat menjadikan bangsa Indonesia yang memiliki jiwa nasionalis.

D.  Implikasi landasan antropologi dalam pendidikan
Indonesia terdiri dari ribuan pulau yang dirangkai oleh selat, dan keadaan geogafisnya tidak merata. Faktor geografis suatu daerah sangat berpengaruh pada jaringan komunikasi dan transportasi antar daerah maupun pulau. Khususnya di daerah yang dikelilingi hutan belantara dan pegunungan yang tinggi akan menghambat proses informasi, sehingga akan berpengaruh pada pengetahuan penduduk di sekitar. Selain faktor geografisnya, di masing-masing daerah memiliki berbagai macam suku bangsa, adat istiadat, sistem nilai, budaya yang berbeda. Misalnya: suku jawa, sunda, madura, dayak, minang, batak dan sebagainya. Sedangkan dari ras polynesia yang mendiami Indonesia bagian timur, misalnya: Ambon, Timor, Irian Jaya. Keragaman budaya tersebut telah memberikan pengaruh terhadap hubungan sosial masyarakat, sistem pendidikan, mata pencaharian, dan pola berfikir manusia.
Misalnya kebutuhan akan makan. Makan adalah kebutuhan dasar yang tidak termasuk dalam kebudayaan. Tetapi bagaimana kebutuhan itu dipenuhi; apa yang dimakan, bagaimana cara memakan adalah bagian dari kebudayaan. Kebudayaan yang berbeda dari kelompok-kelompoknya menyebabkan manusia melakukan kegiatan dasar itu dengan cara yang berbeda. Contohnya adalah cara makan yang berlaku sekarang. Pada masa dulu orang makan hanya dengan menggunakan tangannya saja, langsung menyuapkan makanan kedalam mulutnya, tetapi cara tersebut perlahan lahan berubah, manusia mulai menggunakan alat yang sederhana dari kayu untuk menyendok dan menyuapkan makanannya dan sekarang alat tersebut dibuat dari almunium. Begitu juga tempat dimana manusia itu makan. Dulu manusia makan disembarang tempat, tetapi sekarang ada tempat-tempat khusus dimana makanan itu dimakan. Hal ini semua terjadi karena manusia mempelajari atau mencontoh sesuatu yang dilakukan oleh generasi sebelumya atau lingkungan disekitarnya yang dianggap baik dan berguna dalam hidupnya. Proses perubahan tata cara makan tersebut merupakan terjadi dari proses belajar sehingga menghasilkan perubahan perilaku yang dinilai baik dan berkembang sesuai dengan perkembangan teknologi dan pendidikan.
Dengan berbagai macam suku bangsa dan kebudayaan secara alamiah dari dulu telah berlangsung upaya pendidikan sebagai proses transmisi dan transformasi kebudayaan. Untuk itu, pendidikan di masing-masing daerah berbeda dan disesuaikan dengan budaya daerah tersebut. Proses pendidikan bangsa telah ada sebelum kedatangan penjajah dan memiliki antropologis yang kuat. Setelah bangsa Eropa datang maka diintrodusirlah sistem persekolahan, dengan kurikulum yang diatur oleh tim pengembang kurikulum dari luar.
Kurikulum yang sudah diterapkan pada masing-masing daerah berdampak perkembangan pengetahuan yang berbeda dan mempengaruhi kemajuan masyarakat. Hal ini tentunya berbeda dengan masyarakat yang tinggal di daerah perkotaan dengan daerah pedesaan. Masyarakat perkotaan, memberikan pendidikan anaknya mulai tingkat dasar sampai perguruan tinggi. Program pendidikan di sekolah terdiri dari: sekolah reguler, home schooling, akselerasi, dan sekolah berstandar internasional (RSBI). Selain itu, di kota merupakan pusat pemerintahan dan perdagangan, sehingga memungkinkan perkembangan pendidikan mudah dijangkau dan cepat. Berbeda dengan daerah pedesaan, melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi merupakan permasalahan. Hal ini dikarenakan tingkat ekonomi penduduk yang masih minim, kesadaran orang tua akan pendidikan masih kurang, akses lembaga pendidikan terbatas, dan angka migrasi tinggi. Hal ini menyebabkan angka anak drop out dari keluarga kurang mampu tersebut tinggi.
Melihat permasalahan tersebut, maka peranan pendidikan sangat penting khususnya penyusunan kurikulum oleh satuan pendidikan yang disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan peserta didik. Hal ini bertujuan untuk mewujudkan pendidikan nasional dan tercapainya tujuan pembelajaran. Salah satu kurikulum berbasis budaya lokal telah memberikan sumbangan untuk lebih mengenal potensi budaya di masing-masing daerah, sehingga peserta didik dapat mengenal potensi budayanya sendiri, dapat mengembangkan potensi budaya, serta dapat bermanfaat bagi kelangsungan hidupnya (berwirausaha).
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam implikasi landasan antropologi, adalah sebagai berikut.
1.    Identifikasi kebutuhan belajar masyarakat
Identifikasi kebutuhan masayarakat ini bersumber dari informasi masyarakat sekitar. Masyarakat tersebut terdiri dari tokoh masyarakat, baik secara formal maupun informal, tokoh agama, dan perwakilan masyarakat kelas bawah. Hal ini bertujuan untuk memperoleh informasi dan data yang dijadikan bahan pengembangan kurikulum.
2.    Keterlibatan partisipasi masyarakat
Setelah mengidentifikasi kebutuhan belajar, maka masyarakat ikut serta dalam merancang kurikulum, menyediakan sarana dan prasarana, menentukan nara sumber sebagai fasilitator, dan ikut menilai hasil belajar.
3.    Pemberian Pendidikan Kecakapan Hidup
Pendidikan kecakapan hidup merupakan pendidikan dalam bentuk pemberian keterampilan dan kemampuan dasar pendukung fungsional, membaca, menulis, berhitung, memcahkan masalah, mengelola sumber daya, bekerja dalam kelompok, dan menggunakan teknologi (Dikdasmen 2002, dalam Efendi 2009:153).

E.  Aplikasi Landasan Antropologi dalam Pendidikan
Penerapan landasan antropologi dalam pendidikan saat ini adalah sebagai berikut:
1.    Pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan 2006 sesuai dengan kebutuhan siswa.
2.    Model pembelajaran berbasis budaya lokal. Model pembelajaran ini diterapkan melalui muatan lokal. Materi disesuaikan dengan potensi lokal masing-masing daerah di lingkungan sekolah. Sehingga siswa dapat mengenali potensi budayanya sendiri, mengembangkan budaya, menumbuhkan cinta tanah air, dan mempromosikan budaya lokal kepada daerah lain.
3.    Metode pembelajaran karya wisata.
Guru mengajak siswa ke suatu tempat ( objek ) tertentu untuk mempelajari sesuatu dalam rangka suatu pelajaran di sekolah. Metode karyawisata berguna bagi siswa untuk membantu mereka memahami kehidupan ril dalam lingkungan beserta segala masalahnya . Misalnya, siswa diajak ke museum, kantor, percetakan, bank, pengadilan, atau ke suatu tempat yang mengandung nilai sejarah/kebudayaan tertentu.
4.    Pendidikan kecakapan hidup yang diintegrasikan pada mata pelajaran. Pengembangan kecakapan hidup terdiri dari: kecakapan personal, kecakapan sosial, kecakapan akademik, dan kecakapan vokasional (keterampilan untuk bekerja). Adapun contoh pengintegrasian pendidikan kecakapan hidup dalam mata pelajaran, adalah sebagai berikut.
-       Pendidikan Agama, tujuannya: membentuk siswa menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
-       IPS, tujuannya: mengembangkan pengetahuan, pemahaman, dan kemampuan analisis terhadap kondisi sosial masyarakat.
-       SBK, tujuannya: membentuk karakter peserta didik agar memiliki rasa seni dan pemahaman budaya.
-       Muatan Lokal, tujuannya: membentuk pemahaman terhadap potensi sesuai dengan ciri khas di daerah tempat tinggalnya.
-       Pengembangan diri, tujuannya: memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan dan mengekspresikan diri sesuai dengan kebutuhan, minat, dan bakat.
5.    Pembelajaran dengan Modelling
Modelling adalah metode pembelajaran dengan menggunakan model (guru) sebagai obyek belajar perubahan tingkah laku yang kemudian ditiru oleh siswa. Modelling bertujuan untuk mengembangkan keterampilan fisik dan mental siswa.




BAB III
PENUTUP

A.  Kesimpulan
Antropologi adalah suatu ilmu yang memahami sifat-sifat semua jenis manusia secara lebih banyak. Negara Indonesia merupakan negara yang mempunyai keanekaragaman suku bangsa dan budaya yang mempunyai keunikannya masing-masing. Pendidikan dapat merubah kebudayaan yang buruk dan mempertahankan kebudayaan yang baik pada peserta didik. Oleh karena itu untuk memahami dan menghargai siswa dengan keanekaragaman yang dimilikinya diperlukan landasan antropologi dalam pengembangan kurikulum pendidikan di Indonesia.

B.  Saran
Dengan keragaman budaya bisa melaksanakan pendidikan dengan optimal dan tidak memandang perbedaan sebagai faktor pendidikan wajar 9 tahun, tidak tercapai. Sebagai ahli pendidikan sebaiknya memberikan kesempatan kepada lembaga untuk tetap melestarikan budaya setempat melalui pendidikan di sekolah maupun perguruan tinggi.

















DAFTAR PUSTAKA

Efendi, M. 2009. Kurikulum dan Pembelajaran: Pengantar ke Arah Pemahaman KBK, KTSP, dan SBI. Malang: Universitas Negeri Malang.


Jurnal Antropologi Papua Volume 1, No. 1, Agustus 2002. Papua: Laboratorium Antropologi Universitas Cendrawasih.

Sudomo. 1989. Landasan Pendidikan. Malang: Universitas  Negeri Malang.