BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Masyarakat
Aceh yang berdiam di kota umumnya menggunakan bahasa Indonesia sebagai
pengantar, baik dalam keluarga maupun dalam kehidupan sosial. Namun demikian,
masyarakat Aceh yang berada di kota
tersebut mengerti dengan pengucapan bahasa Aceh. Selain itu, ada pula
masyarakat yang memadukan antara bahasa Indonesia dengan bahasa Aceh dalam
berkomunikasi. Pada masyarakat Aceh di pedesaan, bahasa Aceh lebih dominan
dipergunakan dalam kehidupan sosial mereka. Dalam sistem bahasa tulisan tidak
ditemui sistem huruf khas bahasa Aceh asli.
Tradisi bahasa tulisan ditulis dalam huruf Arab-Melayu yang disebut bahasa Jawi atau Jawoe, Bahasa Jawi ditulis dengan huruf Arab ejaan Melayu. Pada masa Kerajaan Aceh banyak kitab ilmu pengetahuan agama, pendidikan, dan kesusasteraan ditulis dalam bahasa Jawi. Pada makam-makam raja Aceh terdapat juga huruf Jawi. Huruf ini dikenal setelah datangnya Islam di Aceh. Banyak orang-orang tua Aceh yang masih bisa membaca huruf Jawi.
Tradisi bahasa tulisan ditulis dalam huruf Arab-Melayu yang disebut bahasa Jawi atau Jawoe, Bahasa Jawi ditulis dengan huruf Arab ejaan Melayu. Pada masa Kerajaan Aceh banyak kitab ilmu pengetahuan agama, pendidikan, dan kesusasteraan ditulis dalam bahasa Jawi. Pada makam-makam raja Aceh terdapat juga huruf Jawi. Huruf ini dikenal setelah datangnya Islam di Aceh. Banyak orang-orang tua Aceh yang masih bisa membaca huruf Jawi.
BAB
II
PEMBAHASAN
A. Bahasa
Aceh
Orang Aceh mempunyai bahasa sendiri yakni Bahasa Aceh,
yang termasuk rumpun bahasa Austronesia. Bahasa Aceh terdiri dari beberapa
dialek, di antaranya dialek Peusangan, Banda, Bueng, Daya, Pase, Pidie, Tunong, Seunagan, Matang, dan Meulaboh, tetapi yang
terpenting adalah dialek Banda. Dialaek ini dipakai di Banda Aceh.
Dalam tata bahasanya, Bahasa Aceh tidak mengenal akhiran untuk membentuk kata
yang baru, sedangkan dalam sistem fonetiknya, tanda "eu" kebanyakan
dipakai tanda pepet (bunyi e).
Dalam bahasa Aceh, banyak kata yang bersuku satu. Hal ini
terjadi karena hilangnya satu vocal pada kata-kata yang bersuku dua, seperti
"turun" menjadi "tron", karena hilangnya suku pertama,
seperti "daun" menjadi "beuec". Di samping itu banyak pula
kata-kata yang sama dengan bahasa-bahasa Indonesia bagian timur.
B. Macam Bahasa Aceh
1. Bahasa Aceh
Diantara
bahasa-bahasa daerah yang terdapat di provinsi NAD, bahasa Aceh merupakan
bahasa daerah terbesar dan yang paling banyak penuturnya, yakni sekitar
70 % dari total penduduk provinsi NAD. Penutur bahasa Aceh tersebar di
wilayah pantai Timur dan Barat provinsi NAD. Penutur asli bahasa Aceh adalah mereka
yang mendiami kabupaten Aceh Besar, kota Banda Aceh, kabupaten Pidie, kabupaten
Aceh Jeumpa, kabupaten Aceh Utara, kabupaten Aceh Timur, kabupaten Aceh Barat
dan kota Sabang. Penutur bahasa Aceh juga terdapat di beberapa wilayah dalam
kabupaten Aceh Selatan, terutama di wilayah Kuala Batee, Blang Pidie, Manggeng,
Sawang, Tangan-tangan, Meukek, Trumon dan Bakongan. Bahkan di kabupaten Aceh
Tengah, Aceh Tenggara dan Simeulue, kita dapati juga sebahagian kecil
masyarakatnya yang berbahasa Aceh. Selain itu, di luar provinsi NAD, yaitu di
daerah-daerah perantauan, masih ada juga kelompok-kelompok masyarakat Aceh yang
tetap mempertahankan bahasa Aceh sebagai bahasa ibu mereka. Hal ini dapat kita
jumpai pada komunitas masyarakat Aceh di Medan, Jakarta, Kedah dan Kuala Lumpur di Malaysia
serta Sydney di Australia.
2. Bahasa Gayo
Bahasa ini diyakini sebagai suatu bahasa yang erat kaitannya
dengan bahasa Melayu kuno, meskipun kini cukup banyak kosakata bahasa Gayo yang
telah bercampur dengan bahasa Aceh. Bahasa Gayo merupakan bahasa ibu bagi
masyarakat Aceh yang mendiami kabupaten Aceh Tengah, sebahagian kecil wilayah
Aceh Tenggara, dan wilayah Lokop di kabupaten Aceh Timur. Bagi kebanyakan orang
di luar masyarakat Gayo, bahasa ini mengingatkan mereka akan alunan-alunan
merdu dari syair-syair kesenian didong.
3. Bahasa Alas
Bahasa ini kedengarannya lebih mirip dengan bahasa yang
digunakan oleh masyarakat etnis Karo di Sumatera Utara. Masyarakat yang
mendiami kabupaten Aceh Tenggara, di sepanjang wilayah kaki gunung Leuser, dan
penduduk di sekitar hulu sungai Singkil di kabupaten Singkil, merupakan
masyarakat penutur asli dari bahasa Alas. Penduduk kabupaten Aceh Tenggara yang
menggunakan bahasa ini adalah mereka yang berdomisili di lima kecamatan, yaitu
kecamatan Lawe Sigala-gala, Lawe Alas, Bambel, Babussalam, dan Bandar.
4. Bahasa Tamiang
Bahasa Tamiang (dalam bahasa Aceh disebut bahasa Teumieng)
merupakan variant atau dialek bahasa Melayu yang digunakan oleh masyarakat
kabupaten Aceh Tamiang (dulu wilayah kabupaten Aceh Timur), kecuali di
kecamatan Manyak Payed (yang merupakan wilayah bahasa Aceh) dan kota Kuala
Simpang (wilayah bahasa campuran, yakni bahasa Indonesia, bahasa Aceh dan
bahasa Tamiang). Hingga kini cita rasa Melayu masih terasa sangat kental dalam
bahasa Tamiang.
5. Bahasa Aneuk Jamee
Bahasa ini sering juga disebut (terutama oleh penutur bahasa
Aceh) dengan bahasa Jamee atau bahasa Baiko. Di Kabupaten Aceh Selatan dan Aceh
Barat Daya bahasa ini merupakan bahasa ibu bagi penduduk yang mendiami wilayah-wilayah
kantung suku Aneuk Jamee. Di Kabupaten Aceh Barat Daya bahasa ini terutama
dituturkan di Susoh, sebagian Blang Pidie dan Manggeng. Kabupaten Aceh Selatan
merupakan daerah yang paling banyak dituturkan sebagai lingua franca, antara
lain Labuhan Haji, Samadua, Tapaktuan, dan Kluet Selatan. Di luar wilayah Aceh
Selatan dan Aceh Barat Daya, bahasa ini juga digunakan oleh kelompok-kelompok
kecil masyarakat di kabupaten Singkil dan Aceh Barat, khususnya di kecamatan
Meureubo (Desa Peunaga Rayek, Ranto Panyang, Meureubo, Pasi Meugat, dan Gunong
Kleng), serta di kecamatan Johan Pahlawan (khususnya di desa Padang Seurahet).
Bahasa Aneuk Jamee adalah bahasa yang lahir dari asimilasi bahasa sekelompok
masyarakat Minang yang datang ke wilayah pantai barat-selatan Aceh dengan
bahasa daerah masyarakat tempatan, yakni bahasa Aceh. Sebutan Aneuk Jamee (yang
secara harfiah bermakna ‘anak tamu’, atau ‘bangsa pendatang’) yang dinisbahkan
pada suku/bahasa ini adalah refleksi dari sikap keterbukaan dan budaya memuliakan
tamu masyarakat aceh setempat. Bahasa ini dapat disebut sebagai variant dari
bahasa Minang.
6. Bahasa Kluet
Bahasa Kluet merupakan bahasa ibu bagi masyarakat yang
mendiami daerah kecamatan Kluet Utara dan Kluet Selatan di kabupaten Aceh
Selatan. Informasi tentang bahasa Kluet, terutama kajian-kajian yang bersifat
akademik, masih sangat terbatas. Masyarakat Aceh secara luas, terkecuali
penutur bahasa Kluet sendiri, tidak banyak mengetahui tentang seluk-beluk
bahasa ini. Barangkali masyarakat penutur bahasa Kluet dapat mengambil semangat
dari PKA-4 ini untuk mulai menuliskan sesuatu dalam bahasa daerah Kluet,
sehingga suatu saat nanti masyarakat dapat dengan mudah mendapatkan buku-buku
dalam bahasa Kluet baik dalam bentuk buku pelajaran bahasa, cerita-cerita
pendek, dan bahkan puisi.
7. Bahasa Singkil
Seperti halnya bahasa Kluet, informasi tentang bahasa
Singkil, terutama sekali dalam bentuk penerbitan, masih sangat terbatas. Bahasa
ini merupakan bahasa ibu bagi sebagian masyarakat di kabupaten Singkil.
Dikatakan sebahagian karena kita dapati ada sebagian lain masyarakat di
kabupaten Singkil yang menggunakan bahasa Aceh, bahasa Aneuk Jamee, ada yang
menggunakan bahasa Minang, dan ada juga yang menggunakan bahasa Dairi (atau
disebut juga bahasa Pakpak) khususnya di kalangan pedagang dan pelaku bisnis di
wilayah Subulussalam. Selain itu masyarakat Singkil yang mendiami Kepulauan
Banyak, mereka menggunakan bahasa Haloban. Jadi sekurang-kurangnya ada enam
bahasa daerah yang digunakan sebagai bahasa komunisasi sehari-hari diantara
sesama anggota masyarakat Singkil selain bahasa Indonesia. Dari sudut pandang ilmu
linguistik, masyarakat Singkil adalah satu-satunya kelompok masyarakat di
provinsi NAD yang paling pluralistik dalam hal penggunaan bahasa.
8.Bahasa Haloban
Sebagaimana telah disinggung sebelumnya, bahasa Haloban
adalah salah satu bahasa daerah Aceh yang digunakan oleh masyarakat di
kabupaten Singkil, khususnya mereka yang mendiami Kepulauan Banyak, terutama
sekali di Pulau Tuanku. Bahasa ini kedengarannya sangat mirip dengan bahasa
Devayan yang digunakan oleh masyarakat di pulau Simeulue. Jumlah penutur bahasa
Haloban sangat sedikit dan jika uapaya-upaya untuk kemajuan, pengembangan serta
pelestarian tidak segera dimulai, dikhawatirkan suatu saat nanti bahasa ini
hanya tinggal dalam catatan-catatan kenangan para peneliti bahasa daerah.
9. Bahasa Simeulue
Bahasa Simeulue adalah salah satu bahasa daerah Aceh yang
merupakan bahasa ibu bagi masyarakat di pulau Simeulue dengan jumlah penuturnya
sekitar 60.000 orang. Dalam penelitian Morfologi Nomina Bahasa Simeulue,
menemukan bahwa kesamaan nama pulau dan bahasa ini telah menimbulkan salah
pengertian bagi kebanyakan masyarakat Aceh di luar pulau Simeulue: mereka
menganggap bahwa di pulau Simeulue hanya terdapat satu bahasa daerah, yakni
bahasa Simeulue. Padahal di kabupaten Simeulue kita jumpai tiga bahasa daerah,
yaitu bahasa Simeulue, bahasa Sigulai (atau disebut juga bahasa Lamamek), dan
bahasa Devayan. Ada
perbedaan pendapat di kalangan para peneliti bahasa tentang jumlah bahasa di
pulau Simeulue. misalnya, mengatakan bahwa di pulau Simeulue hanya ada satu
bahasa, yaitu bahasa Simeulue. Akan tetapi bahasa ini memiliki dua dialek,
yaitu dialek Devayan yang digunakan di wilayah kecamatan Simeulue Timur, Simeulue
Tengah dan di kecamatan Tepah Selatan, serta dialek Sigulai yang digunakan oleh
masyarakat di wilayah kecataman Simeulue Barat dan kecamatan Salang.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Pada
penulisan huruf dalam Bahasa Aceh hanya berbeda pada
huruf vokal, dikarenakan jumlah huruf vokal dalam Bahasa Aceh lebih banyak
ketimbang dalam Bahasa Indoneia. Oleh karena itu, untuk melengkapi huruf vokal
tersebut, maka dalam penulisan huruf Bahasa Aceh ada huruf yang digabungkan,
misalnya eu dab oe sehingga pelafalannya berbeda dari huruf vokal biasa, juga
ada huruf vokal yang dibubuhi tanda untuk membedakan pelafalan antara satu
huruf dengan huruf lain, contohnya è, è, ö, dll. Penambahan tanda-tanda yang
akan dijelaskan di bawah sangat menentukan pelafalan dan arti dari suatu kata
dalam Bahasa Aceh.
B. Saran
Ketika kita menilik akan budaya Aceh
, banyak sekali yang sudah punah dari sekitar kita, baik dari segi kehidupan
maupun alat-alat keseniannya. Oleh karena itu sudah sepatutnya kita membangun
dan mengenal kembali akan khasanah alat- alat musik Aceh agar tetap dikenal
dimasa yang akan datang.
DAFTAR PUSTAKA
- Munir Ihsan, Kebudayaan
Aceh Yang Kental, Penerbit PT. Tugu Muda Indonesia,
Semarang, 1990.
- Ahmad Gani, Haba
Ureung Aceh, Penerbit Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta,
1980.
- Husein Husnan,
Pembahasan Adat dan Budaya, Penerbit Al-Husna, Solo, 1995.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar