Kamis, 16 Februari 2017

makalah adat dan budaya aceh 9



BAB I
PENDAHULUAN


A.    Latar Belakang
Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam memiliki luas wilayah hampir 55.390 km persegi. Komposisi pemanfaatan lahan terdiri dari kawasan pemukiman, perkotaan, industri, pertanian, hutan alang-alang, hutan industri, hutan lindung dan hutan konversi. Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam dengan alamnya yang subur merupakan kawasan yang sangat cocok untuk pengembangan sektor pertanian. Tidak mengherankan jika kawasan tengah dan selatan propinsi ini telah ditetapkan sebagai Zona Pertanian.
Dengan demikian, Aceh sangat layak untuk dijadikan sebagai salah satu Daerah Tujuan Wisata di Indonesia dengan daya tarik yang beragam termasuk objek dan daya tarik Agro Wisata, Beberapa obyek wisata di Banda Aceh antara lain : Mesjid Raya Bairurrahman ,Pendopo Gubernur ,Museum Negeri Banda Aceh,Taman Sari ,Kerkhoff ,Monumen R.I. 001 ,Pantai Lhoknga dan Lampuuk ,Krueng Raya.
Disamping Itu Aceh Juga dikenal dengan daerah yang kaya akan budaya. Berikut ini penulis akan menguraikan beberapa kebudayaan Aceh yang masih berkembang hingga saat ini.


BAB II
PEMBAHASAN

A. Khasanah Budaya Aceh
Adat Aceh dari Masa Istri dalam Keadaan Hamil sampai kepada anaknya di Sunat Rasul (Khitan)
1. Keumaweueh
Keumaweueh Pada waktu hamil pertama seorang istri, waktu hamil 5 bulan, oleh pihak orang tua perempuan yang hamil tersebut diadakan sedikit kenduri dengan disertai nasi ketan dan dipanggil ahli famili dari pihak istri yang hamil. Setelah ahli famili dari pihak istri berkumpul, maka diadakan upacara basuh Kepala (Rhah Ulee).  Upacara (keumaweuh)meunieum ini ada juga dilakukan sewaktu seorang istri hamil setelah 7 bulan. Bahan makanan yang dibawa oleh pihak orang tua si suami ialah Bu Kulah yaitu nasi putih yang dibungkus dengan daun pisang berbentuk Piramid di dalam hidang, bu leukat (nasi ketan) untuk peusunting meunantu yang sedang hamil, disertai Ayam Panggang dan Tumpou.Lauk pauk nasi ialah Ikan, Daging yang dimasak berbagai macam, Telur Ayam dan Telur Itik rebus, Jreuk dan lain-lain masakan yang disusun di dalam hindang berlapis-lapis (hiding meulampoh).Buah-buahan yang dibawa ialah segala macam buah-buahan yang ada, termasuk buah-buahan untuk rujak (seunicah) sebanyak satu keranjang besar.Selain itu juga ada dibawa kue-kue (Peunajoh) basah dan kering. Maksud tujuan dari upacara adat Meunineum ini pada mulanya ialah lebih menguatkan rasa persaudaraan antara kedua belah pihak (suami-istri) dan utnuk lebih menguatkan silaturrahmi antara sesame ahli famili. Makanan yang dibawa ini dibagi-bagikan juga kepada famili pihak istri.

2. Kelahiran Bayi
Setelah bayi lahir dan setelah dibersihkan, maka kalau bayi tersebut laki-laki diazankan ditelinga kanan dan kalau bayi tersebut perempuan diqamatkan ditelinga kiri, yang dilakukan olah Ayah si bayi ataupun oleh kerabat tertua yang terpandang alim dalam keluarga.

3. Upacara Adat Peucicap
Menurut penyelidikan kami kepada orang-orang tua, bawah upacara ini dilakukan pada hari ke-7 setelah bayi dilahirkan, yaitu kepada bayi tersebut dicicipi Madu Lebah, Kuning Telur dan Air Zam-zam.Oleh pihak orang tua si suami dibawakan seperangkat keperluan bayi tersebut, yaitu ija (kain) ayunan, ija geudong (kain pembalut) bayi, ija tumpe (popok), tilam, bantal dan tali ayun (tali ayunan). Kalau dikalangan kaum hartawan ada juga yang membawa tali ayun dari emas. Selain itu juga diberikan sepersalinan pakaian kepada si istri yang baru melahirkan, yang diberikan oleh ibu mertuanya. Pada hari itu juga diadakan Akikah, yaitu menyembelih seekor kambing, cukur rambut bayi dan pemberian nama kepada si bayi, dengan upacara peusijuek dan sebaran beras- padi serta doa selamat.

4. Peusijuek Dapu Dan Peutron Aneuk (Pada Hari Ke 44 Setelah Anak Dilahirkan Yaitu Setelah Madeueng)
Upacara peusijuek dapu (setawar sedingin tempat berdiang) dilakukan oleh orang tua dan ahli famili dari orang tua suami, yaitu orang tua pihak suami menyunting ketan kepada menantunya yang perempuan dengan uang Teumeutuek dan disertai dengan sepersalinan pakaian. Kalau di kalangan orang-orang bangsawan, selaian kepada menantu perempuan, juga turut diberi persalinan pakaian kepada orang-orang (dayang-dayang) yang turut serta mengasuh perempuan yang medeueng setelah melahirkan. Selain itu pada hari itu juga diadakan upacara turun anak kehalaman (Peutron Aneuk).

5. Peutron Aneuk
Anak yang telah berumur 44 hari tersebut diturunkan kehalaman dengan dipayungi dan kaki anak tersebut diinjakkan ke tanah (peugiho tanoh).Pada upacara ini diatas kepala si anak dibelah Buah Kelapa dengan alas kain putih yang dipegang oleh 4 orang. Kelapa yang telah dibelah tersebut, sebelah diberikan kepada pihak orang tua suami dan sebelah lagi diberikan kepada pihak orang tua si istri, dengan tujuan supaya kedua belah pihak tetap kekal dalam persatuan, rukun damai, kompak dan teguh dalam persaudaraan.
Selanjutnya diadakan pembakaran petasan (mercon) dan disuruh orang-orang yang tangkas dan ahli bermain pedang mempertunjukkan ketangkasan dengan mencincang batang pisang, supaya anak tersebut nanti berani dalam menghadapi peperangan membela negara, dan dapat menjadi Panglima Perang yang tangkas dan arif bijaksana.Selanjutnya anak tersebut ditempatkan ke dalam sebuah balai di halaman, dengan tujuan supaya anak tersebut nanti dapat menyesuaikan dirinya dengan masyarakat dan dapat menjadi orang terkemuka dalam Masyarakat. Setelah Upacara tersebut barulah anak itu dibawa masuk ke dalam rumah dengan terlebih dahulu orang tua yang membawa memberi Salam dan disambut salam serta do’a restu untuk kebahagian si anak.

6. Menyerahkan Anak Ketempat Pengajian
Setelah anak berumur 7 tahun, anak tersebut dihantar oleh orang tuanya ketempat pengajian (Guru Mengaji), kalau anak lelaki ke tempat pengajian anak-anak laki-laki, kalau anak perempuan ke tempat pengajian anak perempuan dengan guru wanita. Pada waktu mengantar anak tersebut dibawa serta ketan kuning dengan tumpo dan ayam panggang, pisang abin beberapa sisir, kain putih 6 hasta, sehelai kain sarung, sedekah sekedarnya dan Beureuteh (Beras Padi digongseng) dicampur kembang. Oleh Guru mengaji dibagi-bagikan makanan yang dibawa tersebut diantara anak-anak mengaji, supaya terdapat kekompakan dan persatuan yang baik antara anak yang baru mengaji dengan murid-murid yang lama.


7. Upacara Sunat Rasul (Khitan)
Sunat Rasul dilakukan setelah anak berumur antara 10 sampai 13 tahun. Anak tersebut diberi berpakaian adapt didudukkan diatas pelaminan dimaba diadakan acara Peusijeuk dengan setawar sedingin, beras padi serta dipesunting dengan ketan oleh kaum kerabat pihak ayah dan ibu serta teumeuntuk (pemeberian) uang oleh kaum kerabat. Selain itu juga ada teumeuntuk uang dari pihak tamu yang diundang kepada orang tua si anak, ataupun hantaran berupa benda. Dikalangan Bangsawan ada juga diadakan arakan yaitu anak tersebut didudukkan dalam usungan dengan iringan Gendang dan Serunai.Pade upacara Sunat Rasul ini diadakan jamuan kenduri, yang bagi rakyat menurut daya dan bagi Bangsawan diadakan secara mewah, hamper menyerupai kenduri Perkawinan. Upacara Sunat Rasul dilakukan oleh mudim dengan anak tersebut disuruh mengucapkan Dua Kalimah Syahadah.

8. Upacara adat dalam menyelesaikan persengketaan atau perkelahian antar anak-anak.
Dalam suatu perkelahian antara anak-anak, jika terjadi pertumpahan darah (rho darah), oleh orang tua-tua kampung terus diadakan perdamaian diantara kedua belah pihak orang tua anak-anak yang berkelahi, dengan diwajibkan bagi pihak yang memukul dhirt kepada orang tua anak yang keluar darah, yaitu diwajibkan membawa ketan kuning, tumpou, kain putih 6 hasta, pakaian satu salin dan uang. Selama belum sembuh, segala urusan pengobatan ditanggung oleh pihak yang tidak rho darah dan dihadapkan orang-orang  tua kampong kedua belah pihak orang tua anak-anak tersebut diadakan upacara bermaaf-maafan.

BAB III
PENUTUP


A.    Kesimpulan
Beragam khasana adat dan budaya di Aceh. Beragam pula cara dalam praktiknya. Ada yang  berupa upacara daur hidup (life cycle), atau acara  ritual yang dilaksanakan dalam siklus Kelahiuran anak. Di antara ritual dalam siklus Kelahiuran anak yang dipraktikkan oleh etnik Aceh adalah Peutron Anek sampai Sunat Rasul.  Ritual ini cukup marak dilakoni, kuhusnya  oleh masyarakat yang bermukim di seluruh wilayah aceh.

B. Saran
            Ritual-ritual yang penulis uraikan diatas merupakan hal-hal yang nilai-nilai budaya tersebut harus ditanam sejak dini kepada generasi muda-mudi sekarang karena mereka yang akan bertindak sebagai pelaku budaya dimasa yang akan datang. Agar nialai-nilai budaya Aceh tetap terjaga seutuhnya.





DAFTAR PUSTAKA



-  Munir Ihsan, Kebudayaan Aceh Yang Kental, Penerbit PT. Tugu Muda Indonesia, Semarang, 1990.
-  Ahmad Gani, Haba Ureung Aceh, Penerbit Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta, 1980.
-  Husein Husnan, Pembahasan Adat dan Budaya, Penerbit Al-Husna,  Solo, 1995.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar