BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Aceh sangat lama terlibat perang
dan memberikan dampak amat buruk bagi keberadaan kebudayaannya. Banyak bagian
kebudayaan yang telah dilupakan dan benda-benda kerajinan yang bermutu tinggi
jadi berkurang atau hilang.
Dengan demikian, Aceh sangat layak untuk dijadikan sebagai salah satu
Daerah Tujuan Wisata di Indonesia dengan daya tarik yang beragam termasuk objek
dan daya tarik Agro Wisata, Beberapa obyek wisata di Banda Aceh antara lain : Mesjid Raya
Bairurrahman ,Pendopo Gubernur
,Museum Negeri
Banda Aceh,Taman Sari
,Kerkhoff
,Monumen R.I. 001
,Pantai Lhoknga dan
Lampuuk ,Krueng Raya.
Disamping Itu Aceh Juga dikenal dengan daerah yang kaya akan budaya.
Berikut ini penulis akan menguraikan beberapa kebudayaan Aceh yang masih
berkembang hingga saat ini.
BAB
II
PEMBAHASAN
A. Pakaian Adat Aceh
Pakaian adat Aceh dilengkapi dengan beberapa macam pernik yang biasa
selalu dikenakan pada acara-acara tertentu. Pernik-pernik tersebut antara lain:
ØKeureusang
(Kerosang /Bros) adalah perhiasan yang
memiliki ukuran panjang 10 Cm dan lebar 7,5 Cm. Perhiasan dada yang disematkan
di baju wanita (sejenis bros) yang terbuat dari emas bertatahkan intan dan
berlian. Bentuk keseluruhannya seperti hati yang dihiasi dengan permata intan
dan berlian sejumlah 102 butir. Keureusang ini digunakan sebagai penyemat baju
(seperti peneti) dibagian dada. Perhiasan ini merupakan barang mewah dan yang
memakainya adalah orang-orang tertentu saja sebagai perhiasan pakaian harian.
ØPatam
Dhoe adalah salah satu perhiasan dahi
wanita Aceh. Biasanya dibuat dari emas ataupun dari perak yang disepuh emas.
Bentuknya seperti mahkota. Patam Dhoe terbuat dari perak sepuh emas. Terbagi
atas tiga bagian yang satu sama lainnya dihubungkan dengan engsel. Di bagian
tengah terdapat ukuran kaligrafi dengan tulisan-tulisan Allah dan di tengahnya
terdapat tulisan Muhammad-motif ini disebut Bungong Kalimah-yang dilingkari
ukiran bermotif bulatan-bulatan kecil dan bunga.
ØPeuniti, Seuntai Peuniti yang terbuat dari emas; terdiri dari tiga
buah hiasan motif Pinto Aceh.
ØSimplah merupakan suatu perhiasan dada untuk wanita. Terbuat dari
perak sepuh emas. Terdiri dari 24 buah lempengan segi enam dan dua buah
lempengan segi delapan. Setiap lempengan dihiasi dengan ukiran motif bunga dan
daun serta permata merah di bagian tengah. Lempengan-lempengan tersebut
dihubungkan dengan dua untai rantaiSimplah mempunayi ukuran Panjang sebesar 51
Cm dan Lebar sebesar 51 Cm..
ØSubang
Aceh,Subang Aceh memiliki Diameter dengan
ukuran 6 Cm. Sepasang Subang yang terbuat dari emas dan permata. Bentuknya
seperti bunga matahari dengan ujung kelopaknya yang runcing-runcing. Bagian
atas berupa lempengan yang berbentuk bunga Matahari disebut “Sigeudo Subang”.
Subang ini disebut juga subang bungong mata uro.
ØTaloe
Jeuem, Seuntai tali jam yang terbuat dari
perak sepuh emas. Terdiri dari rangkaian cincin-cincin kecil berbentuk rantai
dengan hiasan be4ntuk ikan (dua buah) dan satu kunci. Pada ke dua ujung rantai
terdapat kait berbentuk angka delapan. Tali jam ini merupakan pelengkap pakaian
adat laki-laki yang disangkutkan di baju.
B. Upacara Peucicap
Menurut penyelidikan kami kepada orang-orang tua, bawah upacara ini
dilakukan pada hari ke-7 setelah bayi dilahirkan, yaitu kepada bayi tersebut
dicicipi Madu Lebah, Kuning Telur dan Air Zam-zam.Oleh pihak orang tua si suami
dibawakan seperangkat keperluan bayi tersebut, yaitu ija (kain) ayunan, ija
geudong (kain pembalut) bayi, ija tumpe (popok), tilam, bantal dan tali ayun
(tali ayunan). Kalau dikalangan kaum hartawan ada juga yang membawa tali ayun
dari emas. Selain itu juga diberikan sepersalinan pakaian kepada si istri yang
baru melahirkan, yang diberikan oleh ibu mertuanya. Pada hari itu juga diadakan
Akikah, yaitu menyembelih seekor kambing, cukur rambut bayi dan pemberian nama
kepada si bayi, dengan upacara peusijuek dan sebaran beras- padi serta doa
selamat.
C. Peusijuek Dapu Dan Peutron Aneuk (Pada Hari Ke 44
Setelah Anak Dilahirkan Yaitu Setelah Madeueng)
Upacara peusijuek dapu (setawar sedingin tempat berdiang)
dilakukan oleh orang tua dan ahli famili dari orang tua suami, yaitu orang tua
pihak suami menyunting ketan kepada menantunya yang perempuan dengan uang Teumeutuek
dan disertai dengan sepersalinan pakaian. Kalau di kalangan orang-orang
bangsawan, selaian kepada menantu perempuan, juga turut diberi persalinan
pakaian kepada orang-orang (dayang-dayang) yang turut serta mengasuh perempuan
yang medeueng setelah melahirkan. Selain itu pada hari itu juga diadakan
upacara turun anak kehalaman (Peutron Aneuk).
D. Peutron Aneuk
Anak yang telah berumur 44 hari tersebut diturunkan kehalaman dengan
dipayungi dan kaki anak tersebut diinjakkan ke tanah (peugiho tanoh).Pada
upacara ini diatas kepala si anak dibelah Buah Kelapa dengan alas kain putih
yang dipegang oleh 4 orang.
Kelapa yang
telah dibelah tersebut, sebelah diberikan kepada pihak orang tua suami dan
sebelah lagi diberikan kepada pihak orang tua si istri, dengan tujuan supaya
kedua belah pihak tetap kekal dalam persatuan, rukun damai, kompak dan teguh dalam
persaudaraan.
Selanjutnya
diadakan pembakaran petasan (mercon) dan disuruh orang-orang yang tangkas dan
ahli bermain pedang mempertunjukkan ketangkasan dengan mencincang batang
pisang, supaya anak tersebut nanti berani dalam menghadapi peperangan membela
negara, dan dapat menjadi Panglima Perang yang tangkas dan arif
bijaksana.Selanjutnya anak tersebut ditempatkan ke dalam sebuah balai di
halaman, dengan tujuan supaya anak tersebut nanti dapat menyesuaikan dirinya
dengan masyarakat dan dapat menjadi orang terkemuka dalam Masyarakat. Setelah
Upacara tersebut barulah anak itu dibawa masuk ke dalam rumah dengan terlebih
dahulu orang tua yang membawa memberi Salam dan disambut salam serta do’a restu
untuk kebahagian si anak.
E. Menyerahkan Anak Ketempat Pengajian
Setelah anak berumur 7 tahun, anak tersebut dihantar oleh orang tuanya
ketempat pengajian (Guru Mengaji), kalau anak lelaki ke tempat pengajian anak-anak
laki-laki, kalau anak perempuan ke tempat pengajian anak perempuan dengan guru
wanita. Pada waktu mengantar anak tersebut dibawa serta ketan kuning dengan
tumpo dan ayam panggang, pisang abin beberapa sisir, kain putih 6 hasta,
sehelai kain sarung, sedekah sekedarnya dan Beureuteh (Beras Padi
digongseng) dicampur kembang. Oleh Guru mengaji dibagi-bagikan makanan yang
dibawa tersebut diantara anak-anak mengaji, supaya terdapat kekompakan dan
persatuan yang baik antara anak yang baru mengaji dengan murid-murid yang lama.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berbicara tentang budaya Aceh takkan pernah habis dan tak pernah
selesai sampai kapan pun. Topik yang satu ini menarik dibicarakan,
terutama karena budaya itu sendiri sesungguhnya merupakan segala hal
yang berhubungan dengan hidup dan kehidupan manusia. Jadi, selama
manusia itu ada, selama itu pula persoalan budaya akan terus
dibicarakan. Demikian pula halnya dengan budaya Aceh.
selesai sampai kapan pun. Topik yang satu ini menarik dibicarakan,
terutama karena budaya itu sendiri sesungguhnya merupakan segala hal
yang berhubungan dengan hidup dan kehidupan manusia. Jadi, selama
manusia itu ada, selama itu pula persoalan budaya akan terus
dibicarakan. Demikian pula halnya dengan budaya Aceh.
B. Saran
Budaya Aceh yang beraneka ragam dan
selaras dengan syari`at Islam hendaknya dilestarikan, nilai-nilai budaya
tersebut harus ditanam sejak dini kepada generasi muda-mudi sekarang karena
mereka yang akan bertindak sebagai pelaku budaya dimasa yang akan datang.
DAFTAR PUSTAKA
- Munir Ihsan, Kebudayaan
Aceh Yang Kental, Penerbit PT. Tugu Muda Indonesia,
Semarang, 1990.
- Ahmad Gani, Haba
Ureung Aceh, Penerbit Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta,
1980.
- Husein Husnan,
Pembahasan Adat dan Budaya, Penerbit Al-Husna, Solo, 1995.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar