BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Aceh merupakan salah satu
wilayah di Indonesia yang memiliki aneka ragam budaya yang menarik khususnya
dalam bentuk tarian, kerajinan dan perayaan. Di Provinsi Aceh terdapat empat
suku utama yaitu:
Suku Aceh merupakan kelompok mayoritas yang mendiami
kawasan pesisir Aceh. Orang Aceh yang mendiami kawasan Aceh Barat
dan Aceh Selatan terdapat sedikit perbedaan
kultural yang nampak nya banyak dipengaruhi oleh gaya kebudayaan Minangkabau.
Hal ini mungkin karena nenek moyang mereka yang pernah bertugas diwilayah itu
ketika berada di bawah protektorat kerajaan Aceh tempo dulu dan mereka
berasimilasi dengan penduduk disana.
Dari ragam suku
tersebut muncullah beragam budaya yang hingga saat ini masih berkembang seiring
berjalannya waktu. Dibawah ini penulis akan menguraikan beberapa rincian
tentang budaya-budaya Aceh yang masih berkembang disekitar masyarakat kita
hingga saat ini.
BAB
II
PEMBAHASAN
A. Budaya Aceh Pada Masa Silam
Adat dan
budaya Aceh yang kental dengan nuansa Islam, masih dipengaruhi oleh tradisi
Hindu. Hal ini disebabkan, sebelum Islam masuk, Hindu telah berkembang di Aceh.
Setelah Islam masuk, unsur-unsur Hindu dihilangkan, namun tradisinya masih ada
yang dipertahankan sampai sekarang.
Asimilasi budaya Aceh, pernah disinggung oleh Teuku Mansoer Leupeung,
Uleebalang yang dikenal sebagai pujangga. Dalam hikayat Sanggamara,
tokoh yang hidup seangkatan dengan Teuku Panglima Pole mini mengisahkan.
Adat Aceh bak riwayatBacut sapat dudoe teuka
Peutama phon dalam kitab
Bangsa Arab nyang peuteuka
Nyang keudua bak Meulayu
Nibak Hindu dengan Jawa
Nibak Cina na sigeuteu
Adat badu ngon Manila
Bangsa Jawa ngon Meulayu
Le that teungku keunan teuka
Hingga rame nanggroe makmu
Meurah breuh bu meuhai lada
Bak peukayan dum ban laku
Ureung Hindu nyang peuteuka
Cuba tilek tingkah laku
Bajei Badu ladom pih na
Susoen bahsa Ara Meulayu
Barat timu bacut biza
Bahsa Arab na sigeuteu
Jampu bawu laen pih na
Walau Islam
telah kuat, sebahagian tradisi dan cara hidup Hindu ada yang terus melekat pada
masyarakat Aceh. Bahkan tradisi yang bersifat positif terus dipertahankan,
seperti tradisi hidup bergotong royong dan berbagai tradisi lainnya yang
kemudian unsur hidupnya diganti secara bertahap dengan syariat Islam. Tradisi-tradisi Hindu yang telah diislamkan
tersebut masih ada sampai sekarang, seperti pada acara khanduri laoet (
kenduri laut ) yang dilakukan oleh para nelayan. Dulu pada acara kenduri laut
ini, darah kerbau itu ditampung, asoe dalam (organ dalam) kerbau
tersebut beserta kepala, dibungkus kembali dengan kulitnya dan kemudian
dihanyutkan ke tengah laut sebagai persembahan kepada penghuni laut.
Acara kenduri
laut ini masih bertahan sampai sekarang, tetapi seiring dengan masuknya Islam,
pemberi sesaji untuk penghuni laut dihilangkan, upacara pembuatan sesajinya
diganti dengan kenduri dan do’a bersama. Daging sapi atau kerbau yang
disembelih tersebut dimakan bersama anak yatim dan fakir miskin agar hajatan
yang dilakukan tersebut mendapat berkah.
Berbicara tentang budaya Aceh takkan pernah habis dan tak pernah selesai
sampai kapan pun. Topik yang satu ini menarik dibicarakan, terutama karena
budaya itu sendiri sesungguhnya merupakan segala hal yang berhubungan dengan
hidup dan kehidupan manusia. Jadi, selama manusia itu ada, selama itu pula
persoalan budaya akan terus dibicarakan. Demikian pula halnya dengan budaya
Aceh.
Kehilangan demi kehilangan yang menimpa orang Aceh sebenarnya telah membuat banyak perubahan dalam tatanan kehidupan masyarakatnya. Perubahan itu ada yang bersifat positif, tentu pula tidak sedikit yang bersifat negatif. Perubahan positif akan kita catat dalam sejarah peradaban Aceh sebagai suatu prestasi atau perkembangan, sedangkan yang bersifat negatif marilah sama-sama kita cegah jauh-jauh hari sebelum
terlambat. Baik positif maupun negatif, pembicaraan budaya di Aceh ini dibatasi pascakonflik dan tsunami. Perubahan positif antara lain, lahirnya penulis-penulis baru dan munculnya penyanyi-penyanyi baru di Aceh. Hal ini terbukti dari banyaknya buku yang ditulis oleh orang Aceh mengisahkan konflik dan tsunami. Begitu pula nyanyi Aceh, sangat beragam nyanyi Aceh yang beredar di toko-toko kaset saat ini. Intinya, jika kita ingin mendengar lagu Aceh, kita sudah dapat memilih beberapa kaset atau CD yang beredar di pasaran dan tidak susah mencarinya. Andai tidak cukup duit untuk membeli CD-CD itu, kita dapat memutar beberapa gelombang radio yang dengan rutin pula memutar lagu-lagu Aceh. Fenomena ini menunjukkan bahwa konflik dan tsunami telah membawa banyak ilham pada generasi muda Aceh untuk mengimplementasikan kebudayaannya. Dengan demikian, budaya Aceh saat ini dapat dilihat, ditemukan, atau dinikmati oleh siapa pun yang berminat di berbagai tempat dan media.
Kehilangan demi kehilangan yang menimpa orang Aceh sebenarnya telah membuat banyak perubahan dalam tatanan kehidupan masyarakatnya. Perubahan itu ada yang bersifat positif, tentu pula tidak sedikit yang bersifat negatif. Perubahan positif akan kita catat dalam sejarah peradaban Aceh sebagai suatu prestasi atau perkembangan, sedangkan yang bersifat negatif marilah sama-sama kita cegah jauh-jauh hari sebelum
terlambat. Baik positif maupun negatif, pembicaraan budaya di Aceh ini dibatasi pascakonflik dan tsunami. Perubahan positif antara lain, lahirnya penulis-penulis baru dan munculnya penyanyi-penyanyi baru di Aceh. Hal ini terbukti dari banyaknya buku yang ditulis oleh orang Aceh mengisahkan konflik dan tsunami. Begitu pula nyanyi Aceh, sangat beragam nyanyi Aceh yang beredar di toko-toko kaset saat ini. Intinya, jika kita ingin mendengar lagu Aceh, kita sudah dapat memilih beberapa kaset atau CD yang beredar di pasaran dan tidak susah mencarinya. Andai tidak cukup duit untuk membeli CD-CD itu, kita dapat memutar beberapa gelombang radio yang dengan rutin pula memutar lagu-lagu Aceh. Fenomena ini menunjukkan bahwa konflik dan tsunami telah membawa banyak ilham pada generasi muda Aceh untuk mengimplementasikan kebudayaannya. Dengan demikian, budaya Aceh saat ini dapat dilihat, ditemukan, atau dinikmati oleh siapa pun yang berminat di berbagai tempat dan media.
Mencermati permasalahan di atas, ada beberapa perubahan dalam masyarakat kita saat ini. Perubahan tersebut terdapat pada pandangan masyarakat Aceh terhadap petuah atau kebiasaan-kebiasaan yang telah turun-temurun berlaku dalam masyarakat. Petuah atau kebiasaan yang dinamakan adat-istiadat (kebudayaan) itu kini mulai dikesampingkan oleh generasi muda kita dalam karya-karyanya. Masalah yang kedua ini penulis namakan perubahan negatif yang terjadi pascakonflik dan tsunami.
Sehubungan dengan itu marilah kita cermati bagaimana ssungguhnya budaya Aceh. Budaya yang dijalani oleh masyarakat Aceh adalah budaya yang islami. Artinya kebiasaan-kebiasaan yang berlaku dalam masyarakat Aceh tidak bertentangan dengan ajaran islam. Budaya yang islami ini kita harapkan dapat tercermin dalam semua laku dan kehidupan orang Aceh, tidak terkecuali dalam buku-buku yang ditulis oleh generasi muda Aceh terkini dan CD-CD Aceh yang sedang marak-maraknya dijual di pasaran. Dengan demikian, jika anak cucu kita kelak atau orang lain membaca atau menonton VCD-VCD Aceh, mereka sekaligus dapat menatap, menikmati, dan melestarikan kebudayaan itu dalam kehidupannya. Artinya, dalam menulis apa saja yang berlatar belakang keacehan, penulis itu haruslah mengedepankan persoalan yang satu ini. Begitu pula bagi yang terlibat dalam pembuatan VCD-VCD Aceh, baik penyanyi, maupun model-model (bintang) yang dipertontonkan dalam VCD itu, hendaknya memperhatikan nilai-nilai budaya yang berlaku dalam masyarakat Aceh. Hal ini perlu kita ingatkan bersama oleh karena media ini (VCD) merupakan salah satu media yang sangat ampuh dalam menyampaikan pesan-pesan kebudayaan.
C. Lembaga-Lembaga Adat Aceh
Dalam masyarakat Aceh yang sangat senang menyebut dirinya dengan Ureueng Aceh terdapat
institusi-institusi adat di tingkat gampông dan mukim. Institusi ini juga
merupakan lembaga pemerintahan. Jadi, setiap kejadian dalam kehidupan
bermasyarakat, Ureueng Aceh selalu
menyelesaikan masalah tersebut secara adat yang berlaku dalam masyarakatnya.
Pengelolaan sumber daya alam pun di atur oleh lembaga adat yang sudah terbentuk.
Adapun macam-macam lembaga
adat aceh antara lain:
-
Panglima Laot
-
Panglima Uteun
-
Keujrueun Blang
-
Haria Peukan
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berbicara tentang budaya Aceh takkan pernah habis dan tak pernah
selesai sampai kapan pun. Topik yang satu ini menarik dibicarakan,
terutama karena budaya itu sendiri sesungguhnya merupakan segala hal
yang berhubungan dengan hidup dan kehidupan manusia. Jadi, selama
manusia itu ada, selama itu pula persoalan budaya akan terus
dibicarakan. Demikian pula halnya dengan budaya Aceh.
selesai sampai kapan pun. Topik yang satu ini menarik dibicarakan,
terutama karena budaya itu sendiri sesungguhnya merupakan segala hal
yang berhubungan dengan hidup dan kehidupan manusia. Jadi, selama
manusia itu ada, selama itu pula persoalan budaya akan terus
dibicarakan. Demikian pula halnya dengan budaya Aceh.
B. Saran
Budaya Aceh yang beraneka ragam dan
selaras dengan syari`at Islam hendaknya dilestarikan, nilai-nilai budaya
tersebut harus ditanam sejak dini kepada generasi muda-mudi sekarang karena
mereka yang akan bertindak sebagai pelaku budaya dimasa yang akan datang.
DAFTAR PUSTAKA
- Munir Ihsan, Kebudayaan
Aceh Yang Kental, Penerbit PT. Tugu Muda Indonesia,
Semarang, 1990.
- Ahmad Gani, Haba
Ureung Aceh, Penerbit Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta,
1980.
- Husein Husnan,
Pembahasan Adat dan Budaya, Penerbit Al-Husna, Solo, 1995.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar